Bukan Sekedar Kain, Inilah Permata Indah Masyarakat Batak

Penulis: Agatha Phylia Kurniawan­

Kelas: X-D (No Absen: 2)

Mengangkat Keindahan Alam dan Budaya yang Menjadi Kekayaan Lokal (Hidden Gem / Permata Tersembunyi)

“Waktunya pariwisata Indonesia tumbuh bersama ekonomi kreatifnya. Horas, [1]majua-jua!” pesan Presiden Joko Widodo dalam pidatonya saat meresmikan Beli Kreatif Danau Toba pada bulan Februari 2021 yang dikutip dari video kanal youtube Kemenparekraf.

Suku yang dikenal sangat setia dalam melaksanakan tradisi-tradisi juga upacara adat dalam berbagai kegiatan kehidupan sehari-hari sedari dulu, siapa lagi kalau bukan suku Batak! Hal ini dianut dari kebudayaan Dalihan Na Tolu, dimana sebuah sistem kebudayaan menjadi pengatur hidup dan pedoman masyarakat Batak. Suatu budaya yang mempunyai sistem kekerabatan dalam konteks keluarga luas mengakibatkan masyarakat Batak sangat menghormati dan menjaga warisan budaya yang diwariskan para leluhur mereka.

 Selain Dalihan Na Tolu, ada juga kebudayaan Batak lain yang sangat mendunia. Bahkan dalam sebuah artikel bertemakan ‘Beli Kreatif Danau Toba’, bapak Presiden kita juga menyatakan hal tersebut. Jika kalian tanya, apa kebudayaan yang menjadi simbol dan lambang bagi masyarakat Batak itu sendiri. Ya, jawabannya pastilah ulos! Berkat nilai estetikanya lah ulos berhasil dikenal di berbagai penjuru negeri.

          Bukanlah suatu budaya baru, ulos diperkirakan sudah menjadi budaya Indonesia sejak lama. Jauh sebelum orang tua kita lahir, bahkan ulos telah menjadi salah satu peradaban budaya tertua di Asia. Kau tahu, kira-kira sejak 4.000 tahun lamanya, jauh sebelum bangsa Eropa mengenal tekstil! Mirisnya, banyak sekali dari kita, masyarakat Indonesia sendiri tidak mengehtahui filosofi dari ulos. Dikutip dari CNN Indonesia, UNESCO, badan PBB yang bergerak dibidang Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan gencar menjadikan ulos sebagai warisan budaya dunia, karena ulos memang sudah menjadi bagian dari warisan kebudayaan tak benda nasional sejak 17 Oktober 2014 silam. Karena itu, kain ulos ini benar-benar diminati pasar internasional. Apa tidak sayang jika suatu saat budaya ini akan direbut dari negara kita karena kurangnya pemahaman akan budaya sendiri? Karena itulah, jangan malas berliterasi ya!

          Umumnya masyarakat luas akan mengira ulos hanya memiliki fungsi fashion dan cinderamata karena nilai estetikanya, atau mungkin kalian berpikir ulos cuma untuk menghangatkan tubuh? Entah digunakan dalam bentuk sarung, dompet, gorden, syal, hiasan kepala, penutup dada ataupun selimut, kenyataannya tidak seperti itu. Nyatanya kain ulos tidak sesederhana yang kita pikirkan! “Ulos atau kain yang dipercaya sebagai penghangat badan ataupun tubuh dengan cara didoakan dan diberikan dalam acara ritual tertentu dalam adat batak. Adat ritualnya itu, contohnya pemberkatan pernikahan adat orang batak, ulos diberikan


[1] ungkapan ekspresi sambutan hangat yang dapat diartikan selamat datang, salam hangat, dan damai sejahtera untuk kita semua serta ungkapan lain yang mengandung kehangatan dan persahabatan (kompasiana.com)

kepada mempelai wanita dan laki-laki sebagai kain pengikat hubungan perkawinan antara mempelai wanita dan laki-laki secara adat. Intinya, ulos sangat penting bagi masyarakat Batak,” tutur bapak Sahat Tamba, S.H., M,H., CLA, Ketua Bidang Hukum Klan Marga Tamba seJabodetabek.

“Keunikan lain dari budaya ulos ini adalah jenis kain ulos yang diberikan sesuai dengan ketentuan adat dan ini adalah suatu keharusan. Kapan, disampaikan kepada siapa, yang memakainya siapa, dan dalam upacara adat yang bagaimana. Fungsinya tidak bisa bertukar karena tiap ulos bermakna tersendiri.” ujarnya kembali kepada saya, yang saya temui langsung di kantornya di daerah Jakarta Selatan. Itu artinya, ulos tidak hanya mengandung nilai keindahan. Pada sehelai ulos juga terkandung nilai seni, sejarah, religi, sosial, dan budaya. Setiap motif, pilihan warna, jenis, cara pemakaian hingga cara pemberian ulos, semua punya makna masing-masing.

          Bisa dilihat dalam keseharian perilaku adat suku Batak, bahwa ulos bukan sekedar kain, tapi ulos mempunyai tingkatan dan makna tersendiri. Tingkatan ulos dinilai tergantung pada jenis, motif, serta kegunaannya. Contohnya ada ulos yang bisa dipakai sehari-hari, ada ulos untuk adat serta upacara pernikahan, ulos untuk adat ketika lahirnya anak, ulos untuk memasuki rumah baru, ulos yang dipakai ketika orang meninggal, ulos yang disakralkan, dan banyak lainnya.

          Awal dari budaya pemberian ulos didasari oleh pemikiran nenek moyang suku Batak. Mereka mempercayai bahwa kehidupan manusia dipengaruhi oleh 3 unsur, yaitu darah, nafas, dan kehangatan. Kemudian kehangatan ini dibagi kembali menjadi 3 hal, ada matahari, api, dan ulos.

          Itulah mengapa bagi orang Batak ulos bermakna lebih dari sebatas kain. Ulos sebagai tradisi dan budaya, kepercayaan, serta sebagai rasa kasih dan sayang dari keluarga terdekat yang diberikan kepada seseorang. Bisa dari orang tua kepada anaknya, atau pun dari seorang kakak kepada adiknya, yang wajib dipakai sebagai lambang simbol untuk melindungi badan dan tubuh, serta menghangatkan jiwa  dikala cuaca panas ataupun dingin.

Ulos Dalam Berbagai Kegiatan Adat Batak

Meskipun sudah dibedakan dari segi penggunaan dan tingkatnya, ulos masih mempunyai jenisnya lagi. Kita ambil contohnya, yaitu ulos untuk adat pernikahan. Menurut buku Raja Parhata Dohot Jambar Hata Drs. Manahan Radjagukguk, ada beragam macam ulos untuk adat ini. Penasaran? Ketiga ulos ini sama-sama diberikan oleh orang tua mempelai. Perbedaannya terletak pada siapa yang memakai dan bagaimana cara memakainya.

Yang pertama ada ulos Pansamot atau Ragidup, ulos yang diberikan oleh orang tua pengantin wanita kepada orang tua pengantin pria (hela). Yang kedua ialah ulos Ragi Hotang, ulos yang bisa juga disebut ulos Hela. Sesuai namanya, Hela, merupakan ulos yang diberikan orang tua pengantin wanita kepada mantunya. Ulos Hela ini akan dibalutkan ke pengantin dan disimpulkan dibagian depan dada mereka. Ulos Hela diberikan dengan melakukan ritual pemberian doa serta restu terlebih dahulu terhadap kedua pengantin agar mereka senantiasa diberikan kebahagiaan dan bisa meneruskan turunannya. Ketiga, ada ulos Ragi Hotang yang masuk ke dalam jenis ulos Siljalobara, merupakan ulos yang diberikan orang tua pihak wanita kepada abang atau adik dari orang tua pihak lelaki yang biasa disebut bapak-tua atau bapak-uda.

Masih termasuk ulos adat pernikahan, namun perbedaannya ulos jenis ini diberikan kepada Namboru (adik perempuan dari ayah) dari kedua mempelai. Namanya ulos Sadum. Ulos Sadum akan diuloskan oleh Hulahula (adik atau abang laki-laki dari ibu.)

Jika empat jenis ulos diatas berkaitan dengan kedua mempelai serta keluarganya, maka ini adalah jenis ulos yang biasa dipakai tamu undangan pesta perkawinan. Ulos Ragi Hotang, ulos yang dipakai semua laki-laki yang akan menghadiri pesta perkawinan termaksud orang tua laki-laki dari kedua mempelai pengantin. Ingat ya, hanya yang laki-laki saja.

Ulos jenis berikutnya, ulos yang bisa dikatakan sakral adalah ulos Saput, merupakan ulos yang akan dikenakan kepada seorang jenazah yang baru saja meninggal sebelum dikuburkan. Dari namanya, ulos Saput bisa kita artikan sebagai selaput. Ulos ini biasa dikenakan pada tubuh jenazah untuk menyelimutinya. Ulos Saput hanya boleh diberikan kepada jenazah yang sudah menikah. Mengapa demikian? Biasanya kalau jenazah belum menikah akan langsung dikuburkan karena masyarakat Batak mengganggap bahwa mereka masih anak-anak dan belum memiliki tugas adat.

Berikutnya ada ulos Tujung, merupakan pasangan dari ulos Saput. Jika ulos Saput dikenakan pada jenazah, maka ulos Tujung adalah ulos yang dikenakan oleh pasangan yang ditinggalkan. Maksudnya jika yang meninggal adalah sang suami, maka istri akan memakai ulos Tujung dan begitu juga sebaliknya. Ulos jenis ini dipakai di bagian kepala, yangdiberikan oleh orang tua pihak pasangan yang ditinggalkan. Ini bermakna dan menandakan bahwa pasangan yang ditinggalkan tidak bisa menikah lagi kecuali diadakan upacara adat yang lain. Ulos Tujung diberikan dengan tujuan untuk menghibur pasangan yang ditinggalkan selama-lamanya karena pasangannya telah meninggal dunia.

Bicara tentang ulos Tujung yang memiliki kisah sedih dibaliknya, ada juga ulos yang memiliki kisah malang, yaitu ulos Lobu-Lobu. Ulos yang dipakai saat keperluan khusus, seperti saat orang tua dirundung kemalangan akibat kematian anaknya. Oleh karena itu, ulos Lobu-Lobu tidak diperjualbelikan dan akan langsung dipesan oleh orang yang memerlukannya. Namun tak hanya kemalangan, ulos ini biasanya juga diberikan kepada seorang perempuan yang sedang mengandung dengan harapan proses persalinan akan berjalan dengan lancar.

Dikutip dari sebuah artikel, selain upacara adat, pemakaian ulos juga bisa ditentukan dari status sosial seseorang. Contohnya yaitu ulos Runjat. Biasanya ulos jenis ini akan dipakai sebagai ulos Edang-Edang untuk menghadiri undangan oleh orang yang terbilang terpandang atau kaya.

Ulos adalah Budaya sekaligus Karya Seni Adiluhung

Dijelaskan bahwa bagi orang Batak ulos sudah masuk ke dalam berbagai hal aspek kehidupan, termasuk dalam hal kesenian. Ulos yang dipakai orang Batak dalam bidang seni merupakan ciri khas orang Batak dalam hal Manortor (menari Tor-Tor), dimana ulos bisa disangkutkan di bahu, dibentuk lalu dipakai di kepala, bahkan bisa juga dibentuk untuk menjadi rok.

Seperti halnya dengan adat, ulos dalam kesenian juga mempunyai tingkatan. Contohnya, jenis ulos yang tidak disakralkan seperti jenis ulos Sadum. Ulos yang biasa atau diperbolehkan saja jika diberikan sebagai kado dan kemudian dipakai sehari-hari.

Ada pula ulos yang dipakai untuk tari-tarian menyambut raja adat dan menyambut tamu kehormatan. Namun ulos yang dipakai raja adat akan jauh lebih tinggi tingkatannya daripada ulos yang dipakai tamu kehormatan, namanya Ragi Hidup, atau ulos yang dipersamakan tingkatannya dengan orang-orang yang sudah dituakan dan dihormati.

Kain ulos sangat diminati di pasar internasional,tak heran jika akhirnya ulos menjadi karya seni [1]adiluhung. Ulos ternyata dibuat dengan cara disongket, yang pembuatannya dimulai dengan pembuatan benang. Proses pemintalan kapas biasa disebut mamipis yang dilakukan dengan sebuah alat bernama sorha, kemudian dilakukanlah pewarnaan. Umumnya warna merah, hitam, dan putih adalah warna

yang paling mendominasi pada kain ulos. Nah, benang yang awalnya berwarna putih akan dipadukan dengan dedauan berbagai jenis, hingga menghasilkan warna yang dikehendaki. Proses ini disebut itom. Jika mansop adalah proses pewarnaan untuk menjadi warna hitam, maka manubar adalah proses pewarnaan untuk mendapatkan warna merah.


[1] Menurut brainly.com, adiluhung adalah kerajinan yang memiliki nilai dan kualitas yang tinggi, berharga dan harus dipelihara oleh masyarakat.

Ulos Membantu Perekonomian Masyarakat

Sayangnya, dalam kondisi pandemi seperti ini cukup susah melakukan kegiatan perekonomian. Sebab itu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bapak Sandiaga Uno meluncurkan Gerakan Nasional (Gernas) Bangga Buatan Indonesia (BBI) Beli Kreatif Danau Toba, yang diharapkan para pelaku kreatif substektor dapat bangkit dan perekonomiannya membaik serta terus memajukan budaya ulos ini hingga ke penjuru negeri bahkan belahan dunia manapun melalui marketing digital.

Seperti yang saya lihat di pameran Beli Kreatif Danau Toba Fair dan Pesona Kuliner Danau Toba di Sumarecon Mall Serpong, ditampilkan beragam produk ulos yang stylish. Walaupun saya bukan berasal dari suku Batak, saya yang berdarah China-Jawa ini sangat berminat untuk memiliki dan memakai produk yang diluncurkan oleh Gerakan Nasional yang sangat fashionable dan cocok digunakan remaja seusia saya.

3 Comments

  1. Julia Manik

    Reply

    Keren.. Ulos adalah karya seni tinggi yang harus tetap lestari, warisan budaya lokal yang harus dijaga agar tidak direbut bangsa lain.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.